Amankan Produk Dalam Negeri, WCO Usulkan Nomenclatur

Bandung, Industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka pada tahun 2017 telah menyumbangkan devisa sebesar USD$ 22,2 miliar. Hal itu disampaikan oleh staff khusus Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Happy Bone Zulkarnaen. Seusai acara pembahasan usulan dalam rangka penyusunan AHTN/BTKI 2022 sektor industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka di salah satu hotel di Bandung. Rabu (18/4/2018).

Menurut Happy, karena perannya sebagai penghasil devisa negara, industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka merupakan salah satu industri strategis dan prioritas nasional yang harus dibangun serta meningkatkan pertumbuhanya.

“Sektor industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka selain penghasil devisa juga telah menyerap tenga kerja sejumlah 5.21 juta, dengan pertumbuhan 3,03% untuk industri TPT dan 0,7 9% untuk Industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka,”paparnya.

Guna mendukung kelancaran perdagangan internasional, yang meliputi ekspor impor maupun perjanjian kerjasama yang memiliki peran penting, harus mengacu pada peraturan menkeu nomor 6/PMK.010/2017, tentang sistem penetapan klasifikasi barang dan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor, dan untuk hal ini Indonesia memberikan sistem klasifikasi baru dengan mengacu pada sistem World Custom Organization (WCO) dan Asean Harmonizen Tarif Nomenclatures (AHTN).

“Pada tahun 2017 negara-negara ASEAN telah sepakat untuk menggunakan sistem klasifikasi yang sama, sebelumnya Indonesia meggunakan pos tarif 10 digit dan pada tahun 2017 menggunakan pos tarif 8 digit,” bebernya.

Menurutnya agenda WCO yang diamandemen setiap lima tahun sekali terhadap klasifikasi barang-barang yang berlaku, perubahan ini mempengaruhi struktur klasifikasi dan tarif di Indonesia.

“Meskipun sistem klasifikasi baru akan dilakun pada tahun 2022, namun pembahasannya akan dilakukan mulai akhir 2018 dan adanya amandemen tersebut merupakan hal yang baik bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk melakukan evaluasi sistem klasifikasi yang ada,” terangnya.

Kasubdit industri tekstil Kementrian Perindustrian, Elis Masitoh menambahkan, dengan adanya agenda amandemen WCO merupakan kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengusulkan nomenclatur yang belum ada, Ia mencontohkan, karena kebutuhan bahan karpet yang tinggi maka para pelaku usaha mengusulkan nomenklatur bahan baku karpet.

“Adanya usulan dari teman pelaku usaha industri tekstil, kulit, alas kaki dan aneka misalnya belum terakomodir nomenclatur bahan baku untuk karpet. selama ini disamain dengan bahan baku plastik, sedangakn karpet khusus butuh nomenklatur sendiri,”katanya.

Menurutnya, dengan dicantumkanya nomenclatur berarti telah mengamankan produk dalam negeri.”di cantumkannya nomenclatur agar dapat bersaing dan mengamankan produk dalam negeri,” jelasnya.(gus)

source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat Jantra Team