Anda di sini

Ekspor TPT Masih Berpeluang

Jepang akan mengurangi produk cina

Indonesia berpeluang memperluas pasar ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) ke Jepang, mengingat pemerintah Jepang berkeinginan mengurangi ketergantungan terhadap produk asal Cina."sekarang ini 80% - 90% produk tekstil Jepang berasal dari Cina," kata ketua umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Benny Sutrisno, seusai pembukaan seminar "Indonesia Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) Textile and Apparel Industry" id Jakarta, Senin (23/2).

Ia mengatakan, nilai ekspor TPT INdonesia ke Jepang mencapai lebih dari 600 juta dolar AS, dan diharapkan naik menjadi 700 juta dolar AS pada tahun 2009. Guna menangkap pasar TPT Jepangitu, pengusaha TPT dalam negeri harus memiliki mitra di Jepang untuk mengetahiu keinginan pasar TPT Jepang yang mengalami perubahan sangat cepat mengikuti perubahan musim.

"kendalanya, saya rasa pengusaha kita harus lebih bersabar dalam menjalin kerjasama dengan pihak JEpang, karena mereka sangat teliti. Selain itu, perlu ada penyesuaian teknologi permesinan TPT kita, karena itu perlu ada skema pembiayaan yang memberikan kemudahan bagi pengusaha tekstil kita,"ujarnya.

Lebih lanjut Benny menjelaskan, Jepang telah lama meninggalkan TPT untuk pakaian, tetapi berkembang pesat untuk teknikal tekstil yang dipergunakan untuk bidang kesehatan, seperti popok sekali pakai hingga komponen pesawat terbang, seperti moncong pesawat.

"Potensi kita ada untuk kesana, karena itu JEpang ingin tahu kondisi TPT kita seperti apa saat ini dengan melakukan seminar dan kunjungan ke pabrik tekstil di Bandung. Kita pun besok akan melakukan hal yang sama dengan berkunjung ke JEpang guna mengetahui tren tekstil di Jepang saat ini,"ujar Benny.

Sementara itu, Direktur INternational and Clothing Trade Office Mabufacturing Bureau KEmentrian Ekonomi, Industri, dan Perdagangan JEpang, Shigeru Takagi mengatakan, semua standar itu dinilai terlalu tinggi dibandingkan dengan negara pengimpor lainnya.

Masalahnya JEpang memiliki empat musim, kondisi musim gugur dan musim semi pun selalu berbeda beda sehingga tren nya pun cepat berubah,"ujar Takagi. Takagi menjelaskan, dari kebiasaan itulah kondisis pasar TPT yang muncul di JEpang yakni volume yang sedikit dengan perubahan yang cepat dan waktu yang singkat. Oleh karena itu, ia menyarankan agar pengusaha TPT INdonesia memiliki partner tetap di JEpang guna mempermudah mengikuti tren.

Kredit mesin TPT

Pada bagian lain Benny meminta Jepang agar segera mempertimbangkan kemudahan pembiayaan kredit permesinan tekstil buatan Jepang. Mengingat ekspor mesin tekstil buatan Jepang anjlok 25% pada tahun 2008 akibat krisis."perlu upaya penjajakan skema pembiayaan yang memberi kemudahan finansial bagi pengusaha tekstil Indonesia untuk membeli produk mesin dari Jepang,"katanya.

PEmberian skema keringanan pembiayaan mesin tekstil menurut Benny sangat penting, karena saat ini banyak mesin di Industri tekstil lokal sudah banyak yang tua. Sementara dari sisi Jepang, dengan adanya skema kemudahan pembiayaan pembelian mesin termasuk dengan memberikan potongan kredit akan membantu menjual mesin-mesin mereka yang tidak laku sehingga bisa menekan pemutusan hubungan kerja (PHK) di JEpang.