Anda di sini

Industri TPT Tertinggal Vietnam

Lambatnya perubahan investasi disektor TPT mengundang kekhawatiran para pemain dan profesional yang bergerak disektor tersebut. Dengan pertumbuhan rata-rata pertahun dibawah 2% selama 5 tahun terakhir, posisi Indonesia di dunia akan segera tergantikan Vietnam dan Bangladesh dengan pertumbuhan kinerja ekspornya sebagai akibat dari tingginya pertumbuhan investasi dikedua negara tersebut.

Menurut Ketua Bidang Pengembangan Kewirausahaan IKA ITT STTT, Cecep Daryus, investasi indonesia disektor TPT dalam 5 tahun terakhir yang tumbuh rata-rata hanya 1,76% pertahunnya. Pertumbuhan investasi ini terutama didorong oleh pertumbuhan investasi disektor garment dengan pertumbuhan rata-rata 7,48% pertahun, sedangkan sektor lainnya seperti pemintalan dan pertenunan pertumbuhannya berada di bawah 1%. Pertumbuhan ini masih jauh dibawah pertumbuhan di Vietnam dan Bangladesh yang pertahunnya rata-rata tumbuh dista 30% khususnya disektor garment hingga dapat menyerap lebih dari 2 juta tenagag kerja pertahunnya.

 

Investasi di Indonesia masih terhambat iklim usaha yang dinilai belum kundusif karena hambatan ketersediaan energi dan infrastruktur, sehingga para investor dari luar enggan datang. Sedangkan inestasi dari dalam negeri masih terhambat permodalan menyusul sulit dan rumitnya mendapatkan kredit dari perbankan. "Perbankan kita hanya bisa memberikan kredit kepada perusahaan-perusahaan besar, sehingga hampir tidak ada perusahaan-perusahaan baru yang muncul, karena memang belum bankabel, padahal bicara kesejahteraan bangsa tidak akan terlepas dari para penyedia lapangan kerja yang tidak lain adalah lahirnya para pengusaha baru yang masih sangat minim dibawah 2% di negara tercinta ini: aturanya meminimalisir munculnya wirausahawan baru" tegasnya.

 

Ditempat terpisah, Direktur Eksekutif Indotextiles, Redma Gita Wirawasta mengemukakan bahwa investasi garment di Vietnam dan Bangladesh didorong  oleh FDI (Foreign Direct Investment) dari Korea Selatan, China dan Taiwan. Dalam 3 tahun terakhi, terjadi relokasi besar-besaran menyusul naiknya biaya produksi khususnya biaya tenaga keraja. "Vietnam dan Bangladesh menjadi target utama relokasi karenan iklim investasinya yang dianggap lebih baik, sedangkan Indonesia masih menjadi pilihan ketiga" jelasnya.

 

Tumbuhnya Investasi di Vietnam dan Bangladesh telah secara signifikan meningkatkan kinerja ekspor TPT kedua negara tersebut yang dalam 5 tahun terakhir rata-rata tumbuh masing-masing 20% dan 16 %, sedangkan Indonesia hanya tumbuh 8% pertahun. "Dengan kondisi seperti ini, bukan hal yang mustahil eksport mereka tahun ini akan melampaui ekspport kita" jelasnya. "Dan kuncinya adalah investasi yang didorong oleh kondusifitas iklim usaha sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru"tambahnya.