Anda di sini

Momentum Lebaran Tertekan Dayabeli

Sama halnya dengan masyarakat Indonesia, perayaan lebaran adalah moment yang paling ditunggu oleh produsen TPT, karena pada kuartal ini perputaran bisnis berputar dua kali lipat menyusul konsumsiyang biasanya tumbuh 100% dibanding kuartal sebelumnya.

Sama halnya dengan masyarakat Indonesia, perayaan lebaran adalah moment yang paling ditunggu oleh produsen TPT, karena pada kuartal ini perputaran bisnis berputar dua kali lipat menyusul konsumsi yang biasanya tumbuh 100% dibanding kuartal sebelumnya.

Namun setidaknya dalam 5 tahun terakhir moment ini selalu menjadi pertaruhan produsen garment khususnya konveksi (ukm garment) yang seluruhnya berorientasi pada pasar dosmestik. Pasalnya pada setiap moment lebaran mereka harus bertarung melawan produk-produk import baik legal maupun ilegal yang juga naik 2 kali lipat membanjiri pasr luar negeri.

Menurut SekJend IKA ITT STTT, Redma Gita Wirawasta, lebaran kali ini kondisinya kemungkinan akan lebih buruk bagi para produsen garment lokal karena ada kemungkinan produk-produk import garment murah baik yang masuk secara legal maupun ilegal akan lebih banyak membanjiri pasar sehingga produk-produk lokal akan lebih sulit bersaing. Sebagaian besar konsumen akan cenderung memilih produk yang lebih murah karena dipicu oleh makin turunnya daya beli.

"Setiap tahunnya daya beli masyarakat kita semakin menurun karena pertumbuhan ekonomi selalu berada dibawah laju inflasi" tegas Redma. Ia menjelaskan setidaknya dalam 5 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan ekonomi kita sebesar 5.7% dengan laju inflasi 9.3%, artinga kesejahteraan masyarakat kita menurun 3.6%. Berbeda dengan Malaysia, Thailand dan Singapura yang rat-rata pertumbuhan ekonominya dalam 5 tahun terakhir masing-masing mencapai 5.7%, 4.7% dan 6.7% dengan rata-rata laju inflasi masing-masing 2.7%, 4.2% dan 2.1%. "Pertumbuhan ekonomi negara tetangga setiap tahunya selalu berada diatas inflansi, artinya kesejahteraan mereka bertambah karen kenaikan pendapat lebih besar dari kenaikan biaya hidup" jelasnya.

Perbandingan PDB dan Inflasi Negara Asean (Rata-Rata 5 Tahun Terakhir)

  Petumbuhan PDB (%) Laju Inflasi (%) Selisih
Indonesia 5.7 9.3 -3.6
Malaysia 5.7 2.7 3
Thailand 4.7 4.2 0.5
Filipina 4.4 6.4 -2
Singapura 6.7 2.1 4.6

                                                    Sumber : BI diolah

Turun daya beli masyarakat juga terlihat dari pertumbhan konsumsi masyarakat pada struktur PDB dimana dalam 5 tahun terakhir pertumbuhan pertumbuhan konsumsi masyarakat hanya mencapai 4.37%. "Pertumbuhan konsumsi yang berada 1.4% dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi, mengindikasikan daya beli masyarakat kita yang turun" tegasnya.

Perkembangan PDB Indonesia (Rp. Triliyun)

  2004 2005
2006
2007
2008

Rata-Rata
Pertumbuhan

Share Terhadap
PCB

Konsumsi 1004 1043 1076 1130 1191 4.37% 58.76%
Belanja Pemerintah
126 134 147 153 168 7.48% 7.82%
Tambahan Investasi
354 393 403 441 493 8.70% 22.86%
Surplus Pedagangan 137 154 174 186 199 9.82% 9.81%
PDB 1656 1750 1847 1963 2081 5.88% 100.00%

Sumber : BI (PDB berdasrkan nilai konstan) diolah

Redma  menambahkan bahwa indikator inilah yang akan menentukan siapa pembeli apa dengan harga berapa. Karena meskipun secara indikator makro dayabeli masyarakat menurun, ada sekelompok lain masyarakat yang menikmati perbaikan ekonomi yang lebih besar. " Hal ini bisa dianalisa dari pertumbuhan ekonomi (PDRB) dan inflasi di masing-masing daerah" jelasnya.

Menurut Manager Marketing Indotextiles, Yuliab Koersen, perbedaan kelas kemampuan beli masyarakat bisa dijadikan patokan positioning produk dan strategi marketing perusahaan. "Akan sulit bagi kita jika terus bertarung disegment pasar produk-produk murah, pangsa pasar segment kelas menengah dan atas masih cukup besar" tegasnya.

Ia menjelaskan, meskipun dari sisi jumlah konsumen tidak sebesar pasar kelas bawah, namun perputaran uang di segment kelas menengah dan atas bisa jauh lebih besar. "Namun untuk masuk ke segment ini, kualitas produk termasuk design dan cara marketingnya tentu harus jauh lebih baik dibanding produk bawahnya" tambahnya.

Bandung 11 Agustus 2009

 

Bidang Hubungan Kemasyarakatan

Iakatan Alumni Institut Teknologi Tekstil -

Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil

Ket : terbit di Investor Daily & Bisnis Indonesia