Anda di sini

Impor Garment Perlu Jalur Merah

Implementasi AC-FTA diyakini beberapa kalangan akan mengurangi penyelundupan khususnya penyelundupan pakaian jadi karena bea masuk sudah diturunkan hingga 0%. Bahkan seakan mentolelir praktik penyelundupan yang sudah lama terjadi beberapa pihak khususnya birokrasi menyatakan bahwa AC-FTA untuk pakaian jadi hanya melegalkan impor dari China yang selama ini banyak masuk secara ilegal.

Namun pandangan berbeda justru disampaikan Ikatan Alumni Institut Teknologi Tekstil - Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (IKA ITT - STTT) yang menyatakan bahwa praktik penyelundupan akan berlangsung dengan kecenderungan bertambah. Pasalnya dalam perjanjian AC-FTA banyak produk - produk pakaian jadi yang bea masuknya masih 5%-15%. Menurut Sekjend IKA ITT-STTT, Redma Gita W, dalam AC-FTA tahun ini ada 84 pos tarif pakaian jadi yang bea masuknya masih 5% pos tarif yang bea masuknya masih 15%, sedangkan yang sisanya sebanyak 175 postarif bea masuknya sudah 0%.

Redma menjelaskan, hal inilah yang akan menyebabkan praktik penyelundupan akan tetap berlangsung karena pakaian jadi yang bea masuknya masih 15% adalah produk yang paling banyak dikonsumsi masyarkat kiat seperti celana, kaos dan kemeja dari bahan kapas maupun polyester. Sedangkan produk yang jarang dikonsumsi seperti produk dari bahan wool, rayon, dan nilon hingga produk seperti pakaian tidur, jaket, rompi, kaos kaki, syal dan pakaian dalam bea masuknya sudah 0%. "Modus yang akan sering digunakan adalah pelarian nomor HS, karena akan sulit bagi petugas bea cukai untuk memastikan barang apa yang ada dalam kontainer", tegasnya. Disamping modus lain seperti impor borongan yang selama ini masih terus terjadi, tambahanya.

Menanggapi pernyataan Chatib Basri yang mengatakan bahwa AC-FTA akan mengurangi praktik penyelundupan, Redma mengungkapkan bahwa hal itu hanya pernyataan hiburan saja karena banyaknya serangan opini yang ditujukan kepada pemerintah atas ketidak-berhasilan pemerintah dalam mempersiapkan sektor riil kita untuk bersaing dengan china dalam kerangka AC-FTA. "Karena seharusnya Pa Chatib lebih tau tentang hal ini" tegasnya.

Untuk mengurangi praktik penyelundupan akibat AC-FTA dan kembali menggairahkan bisnis pakaian jadi dalam negeri hingga dapat memaksimalkan penyerapan tenaga kerja, IKA ITT - STTT secara resmi telah mengusulkan kepada Menteri Perdagangan RI untuk ,emasukan seluruh impor pakaian jadi dan produk konsumsi lain yang bea masuknya 0% kedalam jalur merah. Selain itu, meskipun bea cukai tidak mengakui adanya import borongan, namun pada praktinya masih terus berlangsung. Dalam surat yang sama IKA ITT - STTT mengusulkan kepada pemerintahan untuk melegalkan impor borongan namun dengan tarif bea masuk diatas 400%. Namun sepertinya belum ada tanggapan ppositif dari pemerintah tentang usulan ini.