VIETNAM KALAHKAN TEKSTIL INDONESIA

JAKARTA,  – Industri tekstil dan produk tekstil Indonesia menghadapi tantangan kompetisi yang kian sengit dengan sektor usaha sejenis dari Vietnam. Pemangku kepentingan di Indonesia harus bersinergi meningkatkan daya saing untuk menggarap pasar domestik ataupun ekspor.

”Sekarang Vietnam mendapat fasilitas sistem preferensi umum atau GSP yang lebih besar dibandingkan Indonesia,” kata Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Ramon Bangun di Jakarta, Selasa (3/6).

Fasilitas itu diberikan Pemerintah Amerika Serikat kepada negara kurang berkembang atau berkembang. Produk tekstil Vietnam mendapat pengurangan bea masuk saat produknya masuk ke pasar negara maju. Vietnam dinilai lebih tertinggal dibandingkan Indonesia.

Selain itu, kata Ramon, masuknya Vietnam ke Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) juga semakin mengurangi bea masuk produknya ke pasar AS, bahkan hingga nol persen. Akibatnya, harga produk industri tekstil dari Indonesia kalah saing dengan Vietnam ketika masuk ke AS.

Perjanjian perdagangan bebas TPP -dengan AS sebagai salah satu anggotanya- itu akan semakin menyulitkan produk Indonesia bersaing dengan Vietnam. Apalagi, AS merupakan pasar ekspor utama tekstil dunia.

Ramon mengatakan, Vietnam mampu membukukan kinerja ekspor tekstil hingga 20 miliar dollar AS. Kondisi ini lambat laun akan memperdalam struktur industri tekstil hilir di Vietnam.

”Awalnya, Vietnam hanya bermain di industri hilir, tetapi sekarang mulai merambat ke tengah dengan membuat kain dan benang,” kata Ramon.

Padahal, selama ini hanya ada tiga negara di dunia yang memiliki industri tekstil terintegrasi dari hulu ke hilir. Ketiga negara tersebut adalah Tiongkok, India, dan Indonesia. ”Jika ditarik dari pencapaian ekspor tekstil yang tinggi, Vietnam nanti bisa membuat semuanya. Kondisi ini bahaya,” kata Ramon.

Kontribusi besar

Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kemenperin Harjanto menuturkan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia.

Jumlah tenaga kerja yang diserap industri TPT pada tahun 2013 sebanyak 1,55 juta orang. Adapun industri garmen menyerap 570.000 orang.

Industri garmen merupakan penyumbang devisa ekspor, dengan nilai ekspor rata-rata dalam lima tahun terakhir 4,5 miliar dollar AS. Jumlah itu setara Rp 51,75 triliun.

”Pada tahun 2013, nilai ekspornya mencapai 7,3 miliar dollar AS atau 60 persen dari total ekspor TPT nasional,” kata dia.

Kemarin, Harjanto ditemui pada pembukaan Pameran Seragam dan Pakaian Kerja 2014 di Plasa Pameran Kemenperin.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy menyebutkan, munculnya negara industri baru yang bergerak di industri tekstil dan garmen memberi tekanan kuat terhadap kemampuan penetrasi ekspor Indonesia di pasar global.

”Peningkatan daya saing menjadi kunci meningkatkan penetrasi produk Indonesia di pasar ekspor serta mempertahankan pangsa produk dalam negeri di pasar domestik,” kata Ernovian, yang membacakan sambutan Ketua Umum API Ade Sudrajat.

Berdasarkan data API, nilai total perdagangan tekstil dunia sekitar 711 miliar dollar AS. Industri tekstil Indonesia yang tumbuh sejak tahun 1980 saat ini hanya mampu menguasai 1,8 persen pangsa pasar tersebut.

Sebagai perbandingan, industri tekstil Vietnam yang baru berkembang tahun 2000 kini mampu menguasai 3,3 persen pangsa pasar tekstil dunia.

Pada tahun 2000, ekspor tekstil Vietnam ke AS ada di urutan ke-82. Saat itu, Indonesia ada di peringkat keenam.

Industri tekstil Vietnam berkembang cepat. Saat ini, Vietnam merupakan negara eksportir tekstil terbesar ketiga ke AS, sedangkan Indonesia masih tetap ada di posisi keenam.

Source 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat Jantra Team